Unknown

Budidaya Padi Organik dengan Metode Sri

Pemilihan metode budidaya padi organik secara SRI bisa menghasilkan produk akhir berupa beras organik yang memiliki kualitas tinggi sebagai beras sehat, dilihat dari beberapa aspek berikut:
  • Aspek lingkungan, dengan menghilangkan penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia dan manajemen penggunaan air yang terukur secara tidak langsung telah membantu mengkonservasi lingkungan.
  • Aspek kesehatan, bagi konsumen produk yang dihasilkan akan lebih sehat dan menyehatkan, karena tidak terkandung residu zat kimia berbahaya yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit dalam tubuh manusia.
  • Produktivitas tinggi, bagi produsen atau petani, penerapan metode ini bisa meningkatkan hasil panen yang pada giliranya menghasilkan keuntungan maksimal.
  • Kualitas yang tinggi, produk  yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik dibanding dengan produk konvensional, sehingga harganya pun tentunya akan lebih baik.

Prinsip budidaya padi organik SRI

  • Tanaman bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai ketika bibit masih berdaun 2 helai
  • Bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak minimal 25 cm persegi
  • Pindah tanam harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus
  • Penanaman padi dengan perakaran yang dangkal
  • Pengaturan air, pemberian air maksimal 2 cm dan tanah tidak diairi secara terus-menerus sampai terendam dan penuh, namun hanya lembab (irigasi berselang atau terputus)
  • Peningkatan aerasi tanah dengan penggemburan atau pembajakan
  • Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari
  • Menjaga keseimbangan biota tanah dengan menggunakan pupuk organik

Keunggulan budidaya padi organik SRI

  • Tanaman hemat air, Selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen memberikan air max 2 cm, paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak (irigasi terputus)
  • Hemat biaya, hanya butuh benih 5 kg per hektar. Tidak memerlukan biaya pencabutan bibit, tidak memerlukan biaya pindah bibit, tenaga tanam kurang, dll.
  • Hemat waktu, ditanam bibit muda 5 – 12 hari setelah semai, dan waktu panen akan lebih awal
  • Produksi meningkat, di beberapa tempat mencapai 11 ton per hektar
  • Ramah lingkungan, tidak menggunaan bahan kimia dan digantikan dengan mempergunakan pupuk organik (kompos, kandang dan mikro-oragisme lokal), begitu juga penggunaan pestisida.
Tabel 1. Perbanding metode SRI organik dengan sistem konvensional
No Komponen Sistem Konvensional Sistem SRI organik
1 Kebutuhan benih 30-40 Kg/Ha 5-7 Kg/Ha
2 Pengujian Benih Tidak dilakukan Dilakukan pengujian
3 Umur persemaian 20-30 HSS 7-10 HSS
4 Pengolaham tanah 2-3 kali (stuktur lumpur) 3 kali (struktur lumpur & rata)
5 Jumlah Tanaman/lubang Rata-rata 5 pohon 1 pohon/lubang
6 Posisi akar waktu tanam Tidak teratur Pasisi akar horizontal (L)
7 Pengairan Terus digenangi Tidak digenangi hanya lembab , Disesuaikan
8 Pemupukan Mengutamakan pupuk kimia kebutuhan hanya dengan pupuk organic
9 Penyiangan Diarahkan pada pemberantasan gulma Diarahkan pada pengelolaan perakaran
10 Rendemen 50-60% 60-70%

Langkah-langkah budidaya padi organik dengan metode SRI

Padi terdapat dua jenis, padi sawah dan padi gogo, bedanya terletak pada ada atau tidak adanya air. Pada saat ini kita akan membahas tentang budidaya padi sawah. Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 meter dari permukaan laut dengan temperatur 19-27 derajat celcius, memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan. Padi menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan pH tanah 4 – 7. Sebelum memulai budidaya padi organik, langkah yang paling awal adalah menyiapkan benih yang baik. Seperti apa cara menyeleksi benih padi organik yang baik, silakah lihat di video berikut:

Tahap 1. Penyemaian

Hal pertama yang dilakukan dalam budidaya padi organik adalah menyemai benih. Kegiatan pertama adalah melakukan seleksi benih. Pemilihan benih ini dimaksudkan supaya kita menanam benih yang benar-benar baik. Benih padi yang digunakan untuk luasasn 200 meter persegi adalah sebanyak setengah kilogram.Untuk mengecek baik tidaknya benih bisa dilakukan dengan menguji benih dalam air, benih yang baik adalah benih yang tenggelam, sementara itu benih yang mengapung adalah benih yang kurang baik, biasanya benih yang mengapung adalah benih yang kopong ataupun benih yang telah tumbuh.
Untuk memastikan benih yang tenggelam tersebut benar benar baik, maka uji kembali benih tersebut dengan memasukannya kedalam air yang sudah diberi garam. Larutan air garam yang cukup untuk menguji benih adalah larutan yang apabila dimasukkan telur, maka telur akan terapung. Benih yang baik untuk dijadikan benih adalah benih yang tenggelam dalam larutan tersebut. Benih  yang telah diuji lalu direndam dalam air biasa selama 24 jam kemudian ditiriskan dan diperam 2-3 hari ditempat yang lembab hingga keluar calon tunas dan  kemudian disemaikan pada media tanah dan kemudian pupuk kompos sekitar sebanyak 10 kg.  Setelah umur semai 7-12 hari benih padi sudah siap ditanam. Berikut video cara penyemaian benih padi dengan metode SRI:

Tahap 2. Pengolahan lahan

Pengolahan lahan untuk penanaman padi sawah dilakukan dengan cara dibajak dan dicangkul. Biasanya dilakukan minimal 2 kali pembajakan yangkni pembajakan kasar dan pembajakan halus yang diikuti dengan pencangkulan: Total pengolahan lahan ini bisa mencapai 2-3 hari. Setelh selasai, aliri dan rendam dengan air lahan sawah  tersebut selama 1 hari. Pastikan keesokan harinya benih yang telah disemai sudah siap ditanam, yakni sudah mencapai umur 7-12 harian, perlu diingat, usahakan bibit yang disemai tidak melebihi umur 12 hari mengingat jika terlalu tua maka tanaman akan sulit beradaptasi dan tumbuh ditempat baru (sawah) karena akarnya sudah terlalu besar.  Silakan lihat video cara mengolah tanah dengan metode SRI:

Tahap 4. Penanaman

Sebelum ditanam, lakukan pencaplakan (pembuatan jarak tanam), jarak tanam yang baik adalah jarak tanam sesuai dengan metode SRI yakni tidak terlalu rapat, biasanya 25 x 25 cm atau 30 x 30 cm. Lakukan penanaman dengan memasukkan satu bibit pada satu lubang tanam. Penanaman jangan terlalau dalam supaya akar bias leluasa bergerak.

Tahap 5. Perawatan

Pada penanaman budidaya padi organik dengan metode SRI yang paling penting adalah menjaga aliran air supaya sawah tidak tergenang terus menerus namun lebih pada pengaliran air saja. Untuk itu, setiap hari petani biasanya melakukan control dan menutup serta membuka pintu air secara teratur.  Berikut panduan pengairan SRI:
  • Penanaman dangkal, tanpa digenangi air, mecek-mecek, sampai anakan sekitar 10-14 hari
  • Setelah itu, isi air untuk menghambat pertumbuhan rumput dan untuk pemenuhan kebutuhan air dan melumpurkan tanah, digenangi sampai tanah tidak tersinari matahari, stelah itu dilairi air saja.
  • Sekitar seminggu jika tidak ada pertumbuhan yang signifikan dilakukan pemupukan, ketika pemupukan dikeringkan dan galengan ditutup
  • Ketika mulai berbunga, umur 2 bulan, harus digenangi lagi, dan ketika akan panen dikeringkan
Pemupukan biasanya dilakukan pada 20 hari setelah tebar, pupuk yang digunakan adalah kompos sekitar 175-200 kg. Ketika dilakukan pemupukan sawah dikeringkan dan pintu air ditutup. Setelah 27 hari setelah tebar, aliri sawah secara bergilir antara kering dan basah.
Beberapa hama yang sering menyerang tanaman padi diantaranya burung, walang sangit, wereng dan penyakit ganjuran atau daun menguning.
Cara penanganannya bisanya dengan cara manual, membuat orang-orangan sawah untuk hama burung, penyemprotan dengan pestisida hayati seperti nanas, bawang putih dan kipait atau gadung, serta untuk penyakit biasanya dengan cara mencabut dan membakar tanaamn yang sudah terkena penyakit daun menguning. Untuk pencegahan harus dilakukan penanaman secara serentak supaya hama dan penyakit tidak datang, penggunaan bibit yang sehat, pengaturan air yang baik, dan dengan melakukan sistem budidaya tanaman sehat yang cukup nutrisi dan vitamin sehingga kekebalannya tinggi.
Hama lain yang sering menyerang adalah  hama putih,  thrips, wereng, walang sangit, kepik hijau,  penggerek batang padi, tikus , dan burung. Sementara itu penyakitnya adalah penyakit bercak daun coklat, penyakit blast, Busuk pelepah daun, fusarium, penyakit kresek atau hawar daun dan penyakit tungro.

Tahap 6. Panen

Padi mulai berbunga pada umur 2-3 bulan bulan dan bisa dipanen rata-rata pada umur sekitar 3,5 sampai 6 bulan bulan, tergantung jenis dan varietasnya. Pada luasan lahan 200 meter persegi, untuk padi yang berumur pendek (3,5 bulan) biasanya diperoleh 2 kwintal gabah basah, setara dengan 1, 5 kuintal gabah kering atau 90 kg beras.  Setelah dipanen, padi bisa dijual langsung, atau juga dijemur dulu sekitar 1-2 hari baru kemudian dijual, atau setelah dijemur digiling baru dijual berupa beras ataupun untuk dikonsumsi sebagiannya.
Unknown
 Macam-macam Pestisida Nabati dan Cara Pembuatannnya

1.    Pestisida Nabati Umbi Gadung
Umbi gadung mempunyai kandungan senyawa kimia diosgenin, steroid, saponin, alkaloid dan fenol.  Kandungan senyawa dalam umbi gadung ini mampu mengendalikan ulat dan hama jenis penghisap (Hemiptera) contoh: kepik, walang sangit, dan wereng.
Cara membuat pestisida umbi gadung sangat mudah dan murah bisa anda buat dengan peralatan dapur di rumah anda, proses yaitu:
a.    500 gram umbi gadung ditumbuk atau diblender
b.    Blender dengan menggunakan kain sifon yang halus
c.    Tambahkan 10 liter air kemudian diaduk sampai homogen
d.    Saring larutan
e.    Semprotkan ke pertanaman
2.    Pestisida Nabati Mimba
Mimba merupakan tanaman yang tumbuh dipinggir jalan atau dipematang sawah. Tumbuhan ini kadang tidak sengaja ditanam. Daunnya dijadikan makanan ternak kambing dan domba. Mimba mempunyai kandungan senyawa kimia: azadirachtin Salanin, nimbenin, meliantriol. Bagian mimba yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati adalah biji dan daun. Kandungan senyawa inilah yang memungkinkan mimba dapat digunakan untuk mengendalikan hama ulat, hama pengisap, jamur dan bakteri. Hama pengisap ini bisa dari beberapa jenis diantaranya dari jenis hemiptera seperti : kepik, walang sangit dan wereng, jenis Lepidoptera yaitu kupu –kupu dengan tipe penghisap berupa belalai, yaitu: penggerek  batang, penggerek buah, ulat, dll atau dari jenis Tisanoptera yaitu sebangsa kutu dengan tipe penghisap berujung tajam.
Cara pembuatan pestisida nabati dari biji mimba:
a.    200-300 gram biji mimba sebanyak 200 – 300 gr ditumbuk halus atau
b.    hasil tumbukan biji mimba di direndam dalam 10 liter air dan didiamkan cukup 1 malam.
c.    Larutan diaduk sampai sudah campur semua lalu saring dengan kain halus.
d.    Larutan kemudian disemprotkan ke tanaman yang terserang hama dan penyakit.
Cara pembuatan pestisida nabati dari daun mimba:
a.    1 kilogram daun mimba kering ditumbuk sampai halus
b.    Kemudian direndam selama semalam dalam 10 liter air
c.    Larutan diaduk pelan-pelan sampai rata lalu di saring dengan kain halus.
d.    kemudian disemprotkan ke tanaman yang terserang hama dan penyakit tanaman.
3.    Pestisida Nabati Srikaya dan Nona Seberang
Tanaman srikaya yang manis rasanya tersebut bisa digunakan sebagai pestisida nabati loh. Yang dimanfaatkan dari srikaya adalah bijinya. Biji srikaya mempunyai kandungan senyawa kimia annonain dan resin. Pestisida nabati srikaya ini dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan hama jenis pengisap dan ulat.
Untuk membuat pestisida nabati dari srikaya dapat dilakukan beberapa tahapan sebagai berikut:
a.    15-25 gram biji srikaya ditumbuk sampai halus, dapat juga diblender dengan blender tepung.
b.    Tepung atau serbuk biji srikaya direndam dengan 1 liter air dan 1 gram detergen
c.    Aduk semua campuran sampai homogen
d.    Larutan kemudian disaring dengan menggunakan kain halus
e.    Hasilnya disemprotkan pada tanaman
4.    Pestisida Nabati Daun Pepaya
Kandungan : Papain
Kegunaan : mengendalikan ulat dan hama pengisap.
Cara pembuatan :
a. Rajang kira-kira 1 kg daun pepaya yang  segar.
b. Daun pepaya yang telah dirajang kemudian direndam    dalam 10 liter air dan 2 sdm minyak tanah dan 50 gram detergen/ sabun colek selama semalam.
c. Saring larutan hasil perendaman dengan kain halus.
d. Larutan yang telah di saring kemudian disemprotkan ke pertanaman.
5.    Pestisida Nabati Biji Jarak
Biji jarak yang biasanya diolah menjadi minyak jarak ini dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Dalam bentuk larutan dapat digunakan untuk mengendalikan hama ulat dan hama pengisap. Dalam bentuk serbuk atau tepung pestisida biji jarak dapat digunakan untuk mengendalikan nematode.
Untuk membuat pestisida biji jarak dapat dilakukan cara berikut ini:
a.    0,75 gram biji jarak ditumbuk sampai halus
b.    Dimasukkan dalam 2 liter air kemudian dipanaskan selama 10 menit
c.    Larutan disaring dengan kain halus, bisa menggunakan kain sifon.
d.    Ditambah dengan 10 liter air , kemudian diaduk
e.    Larutan disemprotkan ke tanaman.
6.    Pestisida Nabati Daun Sirsak
Tanaman sirsak ini juga merupakan tanaman buah yang sangat digemari. Buahnya terasa manis dan masam. Buah sirsak ini paling nikmat bila dibuat jus sirsak. Tetapi dalam hal ini daun sirsak dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Daun sirsak mengandung senyawa kimia golongan annanoin dan resin. Senyawa kimia ini dapat mengendalikan hama trips. Cara pembuatannya bagaimana ya ? begini caranya :
a.    50-100 lembar daun sirsak ditumbuk sampai halus.
b.    Hasil tumbukan daun direndam dalam 5 liter air dan 15 gr detergen (sabun colek atau lainnya).
c.    Diamkan rendaman selama 12 jam (semalam)
d.    Saring dengan kain halus
e.    Tiap 1 liter larutan diencerkan dengan 10-15 liter air atau 1 tangki sprayer diberi 1 liter larutan.
f.    Disemprotkan pada tanaman
7.    Pestisida Nabati Daun Sirsak dan Jeringau
Pestisida kali ini merupakan kombinasi antara daun sirsak dan jeringau (deringu). Keduanya apabila digabungkan memiliki kandungan senyawa kimia yang banyak, diantaranya : arosone, kalomenol, kolomen, kalameone, metil eugenol, eugenol. Kombinasi 2 jenis pestisida nabati ini dapat digunakan untuk mengendalikan hama wereng coklat pada padi.
Berikut ini cara pembuatan pestisida nabati daun sirsak dan jeringau:
a.    1 genggam daun sirsak dan 1m genggam rimpang jeringau dan 20 siung bawang putih ditumbuk halus.
b.    Hasil tumbukan bahan tersebut direndam dengan 20 liter air dan 20 gram detergen.
c.    Semua larutan direndam selama 2 hari
d.    Saring semuanya dengan kain halus
e.    Untuk aplikasi penyemprotan 1 tangki sprayer diberi 1 liter larutan
f.    Semprotkan ke tanaman yang diserang hama wereng.
8.    Pestisida Nabati Daun Sirsak dan Tembakau
Pestisida nabati berikut ini juga kombinasi antara 2 bahan yaitu daun sirsak dan tembakau. Ya tembakau yang biasa di buat untuk rokok ini juga bisa digunakan untuk mengendalikan hama loh. Hama yang dapat dikendalikan dengan pestisida ini adalah belalang dan ulat.
Cara pengendaliannya dapat dilaksanakan cara berikut ini:
a.    50 lembar daun sirsak dan segenggam daun tembakau ditumbuk sampai halus.
b.    Bahan dimasukkan dalam 20 liter air dan 20 gr detergent (bisa sabun colek).
c.    Aduk rata dan diamkan selama semalam
d.    Saring dengan kain halus.
e.    larutan pekat ini dapat digunakan 4 kali penyemprotan (4 kali knapsack sprayer).
f.    Larutan disemprotkan ke tanaman.
9.    Pestisida Nabati Mindi
Ternyata daun mindi juga dapat digunakan sebagai pertisida nabati. Pestisida daun mindi ini dapat digunakan untuk mengendalikan hama pada tanaman. Dalam bentuk rendaman daun mindi dapat digunakan untuk mengusir belalang, sedangkan biji mindi segar dapat digunakan untuk mengendalikan hama ulat plutella xylostella
Cara membuat pestisida nabati mindi sama seperti cara pembuatan pestisida yang lain. Caranya yaitu:
a.    150 gram daun mindi pucuk segar direndam dalam 1 liter air selama 24 jam.
b.    Hasil rendaman disaring dengan kain halus
c.    1 liter larutan diencerkan menjadi 20 liter.
d.    Kemudian disemprotkan ke tanaman
Unknown


Asuransi Pertanian
Asuransi pertanian adalah mekanisme finansial yang akan membantu mengelola kerugian pertanian akibat bencana alam atau iklim yang tidak mendukung diluar kemampuan petani untuk mengendalikanya. Manajemen risiko dibidang pertanian adalah masalah yang sangat penting dalam investasi dan keputusan finansial petani. Program asuransi sangat bergantung pada rasio cost / benefit bagi petani, pengusaha pertanian dan penyedia jasa asuransi dan yang tidak kalah pentingnya adalah asuransi yang diberikan didasarkan pada pertimbangan apakah biaya asuransi tersebut cukup efektif dalam menanggung sebuah risiko. Dalam pertanian asuransi berhubungan dengan pembiayaan usahatani dengan pihak ketiga (lembaga/perusahaan swasta atau instansi pemerintah) dengan jumlah tertentu dari pembayaran premi. Dari sudut pandang ekonomi, asuransi merupakan salh satu cara untuk mengurangi resiko kerugian keuangan yang bersifat tidak tetap dengan jalan memindahkannya kepada penanggung dengan membaar sejumlah premi asuransi sebagai biaya tetap.
Secara umum tujuan asuransi untuk sektor pertanian adalah untuk memberikan proteksi atau penggantian terhadap risiko gagal panen akibat serangan hama, penyakit, ataupun bencana alam. Asuransi pertanian diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi para pihak baik itu petani itu sendiri baik menyangkut tingkat produksi bahkan sampai pada perbaikan situasi ekonomi hingga perusahaan penyedia jasa asuransi. Asuransi memiliki dua fungsi penting, yaitu fungsi primer da fungsi sekunder. Fungsi primer asuransi merupakan pemberian pengamanan terhadap berbagai aset dan kepentingan keuangan yang dipertanggungkan lainnya, sehingga kerugian yang terjadi dapat diberikan kompensasi dan dipulihkan. Fungsi utama asuransi ditujukan dalam 3 dasar operasional :
-       Mekanisme pengalihan resiko
-       Premi yang seimbanga
-       Dana bersama
Fungsi sekunder asuransi meliputi 5 (lima) aspek yaitu menyokong pembangunan nasional, stimulus bagi dunia usaha, pengetahuan dan pencegahan, peluang mendatangkan devisa, dan pikiran tenang.
Asuransi memiliki beberapa manfaat antara lain :
-       Melindungi kepentingan petani terhadap resiko yang terjadi akibat gagal panen dan mendorong peningkatan penerimaan atau pendapatan petani.
-       Membantu pemerintah menyediakan stok beras nasional
-       Membantu pemerintah pusat atau pemerintah daerah berbagi resiko jika terjadi bencana.
-       Memberikan kesempatan bisnis baru untuk sektor swasta atau perusahaan asuransi, menggerakkan ekonomi regional, dan membuka lapangan kerja baru.
Prinsip-prinsip dalam penerapan asuransi pertanian :
1.    Penyelenggaraan asuransi bertanggunggjawab terhadap usahanya yaitu tidak secara otomatis mempunyai akses dengan anggaran pemerintah (subsidi) tidak begitu penting tetapi harus diarahkan menetapkan persentase yang baku / permanen terhadap total premi.
2.    Untuk memaksimalkan kemungkina pengembangan penyelenggaraan asuransi seharusnya menentukan risiko yang ditanggung termasuk bahaya yang dapat mudah dikualifikasi, kehilangan dengan mudah ditentukan dan dinilai tidak ada maslah dengan moral hazard.
3.    Petani seharusnya hanya mendapat ganti kerugian kerusakan tanaman aktual atau hilangnya input.
4.    Kebijakan seharusnya termasuk potongan sampai 20 persen dari tanggungan untuk memastikan bahwa petani berusaha meminimalkan kerusakan.
5.    Premi seharusnya berpijak pada perhitungan aktual, mengunakan catatan cuaca dan catatan yang baik dari petani yang diasuransi. Premi seharusnya ditentukan cukup tingggi untuk menutupi rata – rata tanggungan kerugian, biaya administrasi dan kontribusi untuk cadangan financial
6.    Pemberi asuransi seharusnya mengembangkan portofolio asuransi yang rasional untuk meratakan risiko dan meminimalkan peluang kehilangan yang besar.
7.    Asuransi seharusnya direncanakan dan didirikan oleh pihak swasta. Hal ini memerlukan penyelenggaraan asuransi untuk pengembangan dan tipe pasar asuransi yang diinginkan oleh petani.
Penerapan asuransi komoditas pertanian dapat memproteksi nilai usaha tani dari kegagalan panen yang disebabkan oleh adanya serangan hama dan penyakit, kematian tanaman / ternak, atau kehilangan yang dapat menyebabkan kerugian. Besarnya premi asuransi sebesar 3,5% dari biaya produksi atau biaya pembelian bibit ternak, misalnya. Apabila terjadi kegagalan panen maka kerugian usaha akan mendapat pembayaran klaim sebesar input usaha taninya sehingga petani masih bisa dapat berusaha tani kembali. Penerapan asuransi komoditas pertanian jika berkembang dengan baik dapat mendorong perbankan untuk menyalurkan kreditnya ke sektor pertanian dengan besaran yang lebih besar karena sebagian risiko kegagalan sudah diproteksi oleh asuransi. Dengan demikian ke depan penyaluran pembiayaan lebih besar ke sektor pertanian dan lebih lanjut dapat mendorong meningkatnya investasi di sektor pertanian .
Asuransi dibagi menjadi 4 model yaitu model premi APBN/APBD (premi subsidi) yang mana dengan menggunakan model ini para petani harus membayar sejumlah uang yang dibayarakan setiap bulan sebagai kewajiban dari keikutsertaannya pada lembaga asuransi. Kedua yaitu premi kemitaraan (PKBL-BUMN/Swasta). Premi perbankan yang mana setiap petani mengakses pembiayaan bank. Keempat premi swadaya petani yang mana masuk kedalam biaya input. Adapun contoh-contoh asuransi pertanian yang telah dijalankan ialah sebagai berikut :
1.    Asuransi Usahatani Padi (AUTP) yang mana petani yang tergabung didalamnya merupakan kelompok tani yang terdiri dari anggota petani penggarap sebagai satu kesatuan resiko. Objek yang dijadikan sebagai tempat ialah lahan sawah yang digarap para petani penggarap anggota POKTAN. Penanggung asuransi tersebut ialah PT. Asuransi Jasa Indonesia (JASINDO) secara konsorsium dengan perusahaan asuransi yang lain. Polis asuransi, dimana setiap POKTAN mendapatkan satu polis asuransi dengan ikhtisar yang memuat data penutupan asuransi para anggotanya. Jangka waktu asuransi tersebut ialah dalam 1 musim tanam (4 bulan) yang dimulai sejak tanam hingga panen. Harga pertanggungan sendiri sebesar Rp. 6000.000/ha dengan luasan kurang dari 1 ha diperhitungkan proporsional. Suku premi asuransi yang diberikan adalah sebesar 3 % dari rata-rata ongkos produksi atau Rp. 180.000/ha. Beban premi asuransi ialah pemerintah sebesar 80%, petani sebesar 20% dan premi asuransi tersebut dibayar dimuka. Resiko yang dijamin dari AUTP tersebut ialah banjir, kekeringan, dan OPT berupa hama tikus, wereng coklat, walang sangit, penggerek batang, dan ulat grayak serta penyakit blast, tungro, bercak coklat, busuk batang dan kerdil hampa. AUTP tersebut memeberikan syarat pengajuan klaim dengan tahapan pertama terjadinya kerugian akibat banjir, kekeringan atau OPT dengan premi telah dibayar. Kemudian kerugian diperiksa POPT dan dilaporkan kepada konsorsium. Konsorsium kemudian memutuskan besarnya kerugian. Pembayaran klaim sendir dilakukan 14 hari sesudah persetujuan jumlah kerugian dan klaim yang dibayarkan kerekening POKTAN atau rekening anggota.
2.    Asuransi Ternak Sapi (ATS) sasarannya dalah kelompok ternak (POKTER) yang terdiri dari anggota peternak sebagai satu kesatuan resiko. Objek yang menjadi pertanggungan ialah sapi anggota pokter. Penanggung jawab asuransi tersebut adalah PT. Asuransi Jasa Indonesia (JASINDO) secara konsorsium dengan perusahaan asuransi RAYA, BUMIDA, dan TRIPAKARTA. Polis asuransi ialah setiap Pokter yang mendapatkan satu polis asuransi dengan ikhtisar yang memuat data penutupan asuransi para anggotanya. Jangka waktu asuransi tersebut ialah 1 tahun sejak penerbitan polis dengan harga sesuai dengan harga sapi yang disepakati. Suku premi yang harus dibayarka ialah 2 % dari harga sapi/ekor. Beban premi asuransi ialah swadaya peternak. Adapun resiko yang dijamin dalam ATS ini ialah kematian sapi yang disebabkan oleh penyakit, kematian sapi disebabkan karena kecelakaan melahirka, dan kehilang sapi yang disebabkan karena pencurian, dll. Syarat untuk pengajuan klaim juga sama dengan AUTP memiliki beberapa tahap. 1. Terjadinya kematian akibat penyakit, kecelakaan dan kehilangan akibat pencurian. 2. Premi telah dibayar. 3. Kemudian kematian diperiksa dokter hewan, kehilangan berita acara polisi dan melopor kepada konsorsium kemudian dilakukan kesepakatan pembayaran. Pembayaran klaim sendiri ialah 14 hari sesudah persetujuan jumlah kerugian dan klaim yang diabayarkan ke rekening Pokter atau anggota.
Contoh konkret dari kegiatan penerapan asuransi pertanian, salah satunya Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang ada di Kabupaten Banyuwangi, sbb :
Masyarakat petani kini semakin giat melaksanakan usaha pertaniannya dengan adanya program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).  Persoalan hama dan faktor alam yang setiap saat mengancam dan selalu menjadi momok, kini tidak lagi menghambat petani mengolah lahannya. Di Banyuwangi, misalnya, pengalaman beberapa kali gagal panen padi, telah mendorong para petaninya  belajar meminimalkan risiko. Seperti yang dilakukan Farid Junaedi, warga Kelurahan Kertosari, Banyuwangi, tergerak mengikuti program AUTP untuk meminimalkan risiko kerugian akibat gagal panen.
AUTP adalah program Kementerian Pertanian yang dalam pelaksanaannya menggandeng perusahaan di bawah BUMN, PT Asuransi Jasa Indonesia (AJI).  Untuk mengkitkuti program ini, petani mendaftarkan diri melalui kelompok tani.
Total premi yang dibayar untuk asuransi pertanian Rp180.000 per Ha dalam satu masa tanam. Dalam program ini 80 persen premi disubsidi pemerintah. Petani tinggal membayar 20 persen. Untuk satu Ha, premi yang dibayarkan petani Rp 36.000 satu musim tanam. Peserta program AUTP, baik petani maupun buruh penggarap bakal mendapat ganti-rugi Rp 6 juta per Ha, jika lahan pertanian mengalami gagal panen akibat bencana alam, seperti, banjir, kekeringan, serta serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) utama.
            Sekitar 1.800 lebih petani yang tergabung dalam 75 Gapoktan (gabungan kelompok tani) Banyuwangi menjadi peserta AUTP yang tersebar di 40 desa dengan lahan seluas 1.020,53 ha. Seluruh lahan tersebut terlindungi dengan nilai pertanggungan lebih dari Rp 6 M. Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dispertahutbun) Banyuwangi, Ikrori Hudanto menambahkan, target luas AUTP di tahun 2016 seluas 9.978 ha, namun hingga 16 September 2016 beru terealisasi sekitar 10,22 persen. Untuk mencapai  target, sekitar 200 PPL memberikan sosialisasi pada para petani. Realisasi diperkirakan akan meningkat dan optimis tercapai sampai akhir tahun 2016. (chw-detiknews)


Unknown


PERAN MANAJEMEN DALAM AGRIBISNIS

I.     PENDAHULUAN
            Pada prinsipnya dalam melaksanakan suatu kegiatan, manusia akan berupaya agar kegiatan tersebut dapat tercapai secara efektif dan efisien. Dalam melaksanakan suatu kegiatan tentu terikat dengan keberadaan sumber daya baik itu sumber daya alam sebagai bahan untuk dikelola maupun sumber daya manusia sebagai pengelola. Manusia sebagai pengelola memiliki keterbatasan kemampuan dalam melaksanakan kegiatan tersebut, untuk itu agar kegiatan dapat terlaksana secara sistematis dan terencana diperlukan kerja sama, yang akhirnya membentuk suatu kelompok kerja baik yang bersifat formal maupun informal. Suatu kegiatan kerja sama antara orang-orang dalam upaya mencapai tujuan tersebut merupakan kegiatan manajemen.
            Manajemen sendiri secara sederhana diartikan sebagai pengaturan atau pengelolaan. Dalam Encyclopedia of the Social Science, dikatakan bahwa manajemen adalah suatu proses dimana pelaksanaan suatu tujuan diselenggarakan dan diawasi. Adapun pendapat para ahli mengenai manajemen adalah sebagai berikut. Lawrence A. Appley berpendapat bahwa pengertian manajemen merupakan keahlian untuk menggerakkan orang agar melakukan sesuatu. George R. Terry menyatakan bahwa manajemen adalah sebuah proses yang terdiri dari kegiatan perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan, dan pengawasan yang dilaksanakan untuk mencapai suatu tujuan. Mary Parker Follet memberikan batasan manajemen sebagai seni untuk melakukan suatu pekerjaan melalui orang lain. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai subuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien, dari definisi para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah ilmu dan seni tentang perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengawasan terhadap semua sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Firdaus, 2009).
            Agribisnis secara sederhana dinyatakan sebagai usaha dibidang pertanian yang hanya menunjuk pada para produsen dan pembuat bahan masukan untuk produksi pertanian. Berikut merupakan pengertian dari beberapa ahli mengenai agribisnis.  Agribisnis menurut Sjarkowi dan Sufri (2004) ialah setiap usaha yang berkaitan dengan kegiatan produksi pertanian yang meliputi pengusahaan input pertanian atau pengusahaan produksi itu sendiri dan juga pengusahaan pengelolaan hasil pertanian. Menurut Arsyad dkk, agribisnis adalah kesatuan kegiatan usaha yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan hasil dan pemasaran produk yang berhubungan dengan pertanian dalam arti luas. John Davis and Ray Goldberg (1957) memandang agribisnis sebagai seluruh rangkain aktivitas produktif beberapa subsistem.  Menurut E. Paul Roy (1979) agribisnis dianggap sebagai suatu proses koordinasi berbagai subsistem, yang mana koordinasi tersebut merupakan fungsi manajemen untuk mengintegrasikan berbagai subsistem menjadi sistem. Wibowo dkk, (1994) menyatakan bahwa agribisnis mengacu kepada semua aktivitas mulai dari pengadaan, prosesing, penyaluran sampai pada pemasaran produk yang dihasilkan oleh suatu usahatani atau agroidustri yang saling terkait satu sama lain. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa agribisnis merupakan kesatuan kegiatan usaha yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi yang berhubungan dengan pertanian dalam arti luas dan juga merupakan suatu sistem yang berorientasi dengan market yang memiliki beberapa subsistem didalamnya dari hulu hingga hilir. Dari pembahasan diatas mengenai pengertian manajemen dan agribisnis, dapat disimpulkan bahwa manajemen agribisnis merupakan suatu kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengawasan terhadap subsistem yang terdapat dalam agribisnis dari hulu hingga hilir untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
II.  PEMBAHASAN
            Manajemen memiliki empat ciri pokok yaitu berorientasi pada tujuan, melibatkan banyak orang, menggunakan teknik-teknik tertentu, dan dilaksanakan dalam satu organisasi baik formal maupun informal. Manajemen sangat dibutuhkan dalam agribisnis dan memiliki peran aktif dalam pengembangan agribisnis sesuai dengan fungsi manajemen yaitu :
1.    Perencanaan
Perencanaan agribisnis merupakan suatu sistematis untuk mencari alternatif-alternatif baru, disertai dengan perhitungan konsekuensi finansialnya terhadap hasil dan biaya. Kegiatan perencanaan agribisnis meliputi beberapa hal yaitu, pertama identifikasi kebutuhan pasar yang mana perencanaan agribisnis terlebih dahulu harus dapat menjawab apa yang diinginkan oleh pembeli untuk menekan kerugian dan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Selain untuk mengetahui kebutuhan pasar, pengidentifikasian ini juga berfungsi untuk mengetahui beberapa sumber informasi seperti grosir, warung kecil, konsumen akhir, dan lembaga keuangan (Bank pemerintah). Kedua identifikasi kebutuhan industri hilir yaitu kegiatan agroindustri, pada proses ini para manajer wajib pengetahui bagaimana proses penyimpanan, pengeringan, pengolahan hasil, sampai dengan proses pengangkutan hal tersebut bertujuan untuk meminalkan kerugian yang mungkin terjadi. Ketiga yaitu identifikasi jaringan ketersediaan agroinput yang meliputi lembaga penyedia (industri hulu), mutu, jumlah, harga, dan waktu ketersediannya. Keempat identifikasi jaringan ketersedian modal usaha, hal ini merupakan hal yang penting karena modal merupakan faktor pertama yang menunjang terjadinya proses agribisnis. Kelima penyusunan pola usahatani yang memiliki keunggulan kompetitif komoditi. Keenam perencanaan modal dan pengajuan kredit. Terakhir perencanaan tenaga kerja hal ini memang terdengar sepele tapi hal ini menjadi faktor penting dalam memanage suatu kegiatan dalam agribisnis, salah satu contohnya seorang manajer mie kober lebih memilih tenaga kerja laki-laki dibandingkan dengan perempuan karena kecenderungan perasaan perempuan yang lebih perhatian terhadap keluarganya sehingga terkadang jatah makan siang dibawa pulang, sedangkan laki-laki cenderung hanya memikirkan dirinya sendiri dan laki-laki tidak banyak berbicara pada saat bekerja, itu sebabnya manajer mie kober memanage tenaga kerja laki-laki dibandingkan dengan tenaga kerja perempuan. Dari sekian pembahasan tersebut terlihat bahwasannya perencanaan dibutuhkan dalam manajemen agribisnis.
2.    Pengorganisasian
Langkah selanjutnya setelah perencanaan yaitu pengorganisasian, dalam pengorganisasian ditetapkan sistem organisasi yang dianut untuk menetapkan pembagian pekerjaan, tugas dan tanggung jawab dari masing-masing orang yang ikut bekerja sama untuk mempermudah pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Organisasi mempunyai tiga komponen yaitu fungsi, personalia, dan faktor-faktor sarana fisik. Seorang manajer sangat berperan dalam pengorganisasian untuk dapat mengelola orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tersebut. Seorang manajer harus mampu memberi bimbingan kepada bawahannya dan harus dapat memimpin organisasi tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab agar menjadi teladan kepada para bawahannya (Firdaus, 2009).
3.    Pengarahan
Fungsi pengarahan merupakan gerak pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan fungsi perencanaan dan pengorganisasian. Menurut Downey dan Erickson (1992), pengarahan bertujuan untuk menentukan kewajiban dan tanggung jawab, menetapkan hasil yang harus dicapai, mendelegasikan wewenang yang diperlukan, menciptakan hasrat untuk berhasil, mengawasi agar pekerjaan benar-benar dilaksanakan sebagaimana mestinya. Pengarah merupakan jantung dari proses manajemen dan harus didasarkan pada rencana organisasi yang baik, yang menentukan tanggung jawab, wewenang, dan evaluasi. Selain itu pengarahan berfungsi untuk membuat organisasi tetap hidup, untuk menciptakan kondisi yang menumbuhkan minat kerja, kekuatan untuk bertindak, pemikiran yang imajinatif dan kelompok kerja yang berkelanjutan.
4.    Pengkoordinasian
Dalam suatu organisasi sering terjadi perbedaan antar anggota organisasi, padahal suatu organisasi disusun untuk mencapai satu tujuan bersama. Hal tersebut dapat menimbulkan perbedaan yang akhirnya dapat mempengaruhi keputusan yang akan diambil, oleh karena itu berbagai pendapat tersebut perlu dipadukan agar harmonis dalam suatu tindakan koordinasi yang akan menuju kesuatu tujuan organisasi. Koordinasi merupakan daya upaya untuk mensinkronkan dan menyatukan tindakan-tindakan sekelompok manusia. Koordinasi merupakan otak dalam batang tubuh dari keahlian manajemen.
5.    Pengawasan
Pengawasan merupakan fungsi terakhir yang harus dilakukan dalam manajemen, sebab dengan pengawasan dapat diketahui hasil yang telah tercapai dan apabila terjadi penyimpangan dapat dilakukan perbaikan sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
            Dalam agribisnis terdapat tiga aspek yang perlu untuk menerapkan manajemen didalamnya, dan ketiga aspek tersebut saling menunjang satu sama lain. Adapun aspek-aspek tersebut ialah :
a.    Manajemen Produksi
Manajemen produksi merupakan proses kegiatan manajemen yang diterapkan dalam bidang produksi dan mencangkup perencanaan sistem produksi, pengendalian produksi dan pengambilan keputusan dalam persiapan produksi.
b.    Manajemen Pemasaran
Pemasaran merupakan tujuan utama dalam suatu kegiatan pengolahan, karena dengan adanya pemasaran akan diperoleh keuntungan. Tanpa adanya kegiatan pemasaran, produk dari suatu perusahaan tidak akan dapat memasuki pasar dengan lancar dan perusahaan akan mengalami kerugian.
c.    Manajemen Keuangan/Permodalan
Aspek permodalan dalam perusahaan tidak kalah pentingnya dengan aspek produksi dan pemasaran. Kesalahan dalam penanganan keuangan akan membuat langkah produksi dan pemasaran akan menjadi pincang.
III.   PENUTUP
            Agribisnis dapat bergerak  diberbagai kegiatan yang berkaitan dengan penyediaan sarana produksi, proses produksi, pengolahan, dan pemasaran hasil pertanian. Sebagian besar agribisnis di Indonesia dikelola oleh beberapa orang saja, tetapi agribisnis yang sebenarnya dilakukan oleh perusahaan yang memperkerjakan sekelompok orang atau lebih yang bertujuan untuk menghasilkan keuntungan. Perusahaan merupakan organisasi skala besar yang mana untuk mempermudah dalam pengelolaan agribisnis tersebut dibutuhkan manajemen didalamnya. Manajemen memiliki peran penting dalam kegiatan agribisnis, dengan adanya manajemen semua kegiatan akan terencana dengan matang dan terstruktur sehingga sangat berguna untuk meminimalkan kerugian yang mungkin terjadi. Dalam manajemen juga terdapat pengorganisasian yang mana dalam fungsi ini memudahkan pembagian tugas dan tanggung jawab. Selain kedua hal tersebut, manajemen memiliki fungsi pengarahan, pengkoordinasian dan pengawasan yang dapat memudahkan dalam sistem agribisnis untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Downey, E. D. dan S. P. Ericson. 1992. Manajemen Agribisnis. Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga. 1

Firdaus, Muhammad. 2009. Manajemen Agribisnis. Jakarta: Bumi Aksara

Iskandar, Ichan. 2013. Peran Manajemen Dalam Agribisnis. (http://manajemen-agribisnis.ichaniskandar.blogspot.com). (diakses tanggal 17 April 2013).

Maharani, Fitria. 2012. Manajemen Agribisnis. (http://fitria-maharani.blogspot.com/2012/02/definis-agribisnis). (diakses tanggal 06 Februari 2012).